Follow IG @farida_271

Thursday, May 9, 2019

Tradisi Megengan



Tradisi megengan di Jawa bisa dikatakan sebagai pertanda bahwa sebentar lagi akan memasuki bulan ramadhan, bulan penuh berkah. Kalau di luar Jawa aku kurang tahu ada tradisi atau budaya seperti tidak.

Di tempat aku sendiri, budaya megengan masih terus dilakukan hingga sekarang ini. Biasanya ada beberapa orang atau keluarga yang mengadakan megengan bersamaan dengan kirim doa buat para sanak saudara yang sudah meninggal. Jika sudah mendekati 1 Ramadhan maka undangan kenduri itu hampir setiap hari ada yang mengundang Bapak, kalau kenduri biasanya yang diundang tetangga-tetangga sekitar, tapi hanya para bapak-bapak dan beberapa pemuda saja. Kalau para ibu-ibu dan anak gadis nunggu di rumah aja, nunggu berkat atau jajanan dari kenduri, karena biasanya dibawa pulang ke rumah.

Megengan di tempat aku dulu dan sekarang sudah berbeda, meskipun begitu tidak mengurangi antusias para warga untuk merayakan bersama-sama. Jika dulu karena belum ada mushola, para warga biasaya 1 RT mengadakan megengan bersama-sama di langgar. Rumah salah satu warga yang bersedia dan luas biasanya yang akan digunakan sebagai langgar, tempat di mana melaksanakan shalat tarawih berjamaah selama satu bulan penuh.

Setiap satu kepala keluarga membawa tempelang atau nasi yang dibungkus. Dari dulu hingga saat ini membawa tempelang hanya sebatas 4 bungkus saja. Tidak ada arti apa-apa kenapa harus 4 bungkus, karena kalau kebanyakan malah jadi sia-sia. Isi tempelang macam-macam, tapi rata-rata dan sudah menjadi patokan bahwa isi tempelang selain nasi, yaitu untuk sayur biasanya kering tempe, sayur kentang, lalu oseng mie. Untuk oseng mie ini biasanya tidak pedas, pakai bumbu ketumbar lalu dikasih irisan seledri dan bawang goreng. Lalu lauknya ayam goreng, tempe, tahu atau telur.

Yang menjadi berbeda adalah tempatnya, kalau sekarang sudah pakai kertas nasi, sebelumnya pakai bungkus daun pisang (dan ini membuat rasa makanan jadi semakin mantaaap dan sedaaap). Dulu pas aku masih kecil, daun pisang hanya dipakai sebagai alas saja, sedangkan wadahnya itu bernama encek. Encek dibuat dari batang daun dari pohon pisang yang dibuat jadi segi empat lalu bagian tengahnya dikasih bambu kecil-kecil yang dipasang melintang, bambu kecil inilah yang nantinya digunakan sebagai tempat alas daun pisang.
sumber foto : klik di sini

Memakai encek memang sedikit merepotkan saat membawanya, anak kecil dipastikan tidak bisa membawa sendiri, karena memang berat dan besar.

Lalu jangan lupakan kue apem, kue yang jadi hits saat ada hajatan ini juga selalu menjadi menu yang tidak terlupakan di acara megengan ini.

Dan inilah cerita megengan ala daerah aku, lalu bagaimana cerita megengan di tempat kalian?
Dan selamat menjalankan ibadah puasa? Apa target puasa tahun ini?






Noted : tulisan ini diposting sebagai setoran untuk #1minggu1cerita tema minggu ini adalah “budaya”.  

Mau Gabung ? klik aja ini


2 comments:

  1. Eh, samaa..di tempatku juga ada budaya megengan, mbak. Tapi sekarang beberapa sudah tidak melaksanakan sih. Mbak farida dari kota mana?
    kalau di tempatsaya , wadahnya pakai tampah kecil . Di beberapa desa sekarang juga ada yang dilaksanakan secara kolektif di balai desa atau rt. beberapa desa lain, masih diselenggarakan per individu di rmah masing-masing.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku di pacitan mbak, he he he .. mbak dewi dari mana ??
      terimkasih sudah berkomentar di blog aku

      Delete