Follow IG @farida_271

Sunday, April 21, 2019

SEPERTI APAKAH IKHLAS ITU?

sumber foto : Gambar Oleh Peter H dari Pixabay


Ikhlas, apakah arti dari kata tersebut?
Banyak orang yang sering mengatakan ‘ikhlas’ disetiap ucapannya, apakah pada dasarnya mereka tahu apa arti kata tersebut.
“Aku ikhlas memberimu uang Rp 100.000,-“
“Aku ikhlas memberimu makan sepiring nasi goreng.”
Dan sebagainya.

Berdasarkan www.kbbi.web.id ikhlas adalah bersih hati, tulus hati.
Setulus apakah hati kita? Menurut aku sulit untuk menilainya. Karena ikhlas itu tidak mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun. Lawan dari ikhlas adalah riya.

Siapa yang suka memberi uang kepada pengemis? Atau ada yang sudah males dan tidak mau memberikan uang kepada mereka. Bukan menjadi rahasia lagi kalau ada pengemis yang kekayaanya lebih memukau daripada kita yang kerja keras membanting tulang setiap hari, kita tidak aku lupa bahwa pernah ada berita yang mengatakan bahwa seorang pengemis ditangkap dengan uang senilai jutaan rupiah. Uang itu merupakan pendapatan sehari-hari saat ia mengemis dijalanan.
sumber : https://news.detik.com
Lalu perasaan kalian seperti apa?, Pas tahu bahwa uang yang kalian berikan kepada mereka dipakai untuk membeli barang-barang yang tidak baik, seperti minuman keras atau buat taruhan. Pasti sakit rasanya?

Mungkin dua hal tersebut membuat kita merasa “udahlah gak usah memberikan mereka uang, kalau cuma dipakai buat mabuk” atau “ah, jangan-jangan dia lebih kaya daripada aku.”

Mengingat dua hal tersebut, aku jadi teringat sebuah kalimat yang aku lupa darimana sumbernya, kalimat itu menjadi sebuah pengingat bagi diriku.

Kalimat itu kurang lebih seperti ini : “Memberi adalah hubungan kita secara langsung dengan ALLAH, jadi bukan menjadi urusan kita saat apa yang diberikan itu tidak dipakai dengan baik. Hal itu menjadi urusan si penerima dengan ALLAH langsung. Kita bertanggung jawab masing-masing dengan apa yang kita lakukan.“

Dari hal tersebut aku berpendapat, saat kita memberikan uang recehan kepada mereka, niatkan kita untuk menolong sesama, siapa tahu mereka memang-memang benar sedang butuh makan. Kita tidak usah memikirkan pahala, karena itu murni urusan ALLAH. Biar ALLAH saja yang menghitung pahala kita.

Aku disini tidak menyarankan untuk memberikan  uang kepada pengemis dijalanan atau menyetujui mereka yang melakukan itu.

Kembali lagi bahwa ini tentang ikhlas, sudah pernah dengar dengan sebuah kalimat “seperti halnya surat Al ikhlas yang tidak tercantum kata ikhlas satupun, seharusnya seperti itulah ikhlas itu.” Selain itu aku juga pernah baca lagi-lagi sumbernya tidak jelas, kurang lebih seperti ini “saat kita akan shalat, tapi kita takut kalau nanti dikira alim, dikira ingin pamer atau ingin dipuji, pada saat itu sebenarnya kita memang sedang ingin seperti apa yang kita kwatirkan.” 

Dari hal-hal tersebut, aku menarik kesimpulan, bahwa jika kita ikhlas memberi maka kita tidak akan mengucapkan kata ikhlas itu berulang kali. Kalau ikhlas yang udah gitu, orang memberi juga ada aturan mainnya bukan.

Jadi disaat kita sedang naik bus, terus ada pengamen atau pengemis pas kebetulan ada receh kita berikan saja, niatkan untuk menolong. Sekali lagi memberi itu urusan kita dengan ALLAH. Biarkan ALLAH yang mengurus sisanya.

Sekarang lembaga zakat, infak dan sedekah juga sudah banyak, in shaa allah mereka amanah dan pasti tepat sasaran. Mau memberikan kepada pengemis, atau disumbangkan melalui lembaga zakat apapun itu niatkan untuk menolong sesama dan niatkan sebagai bentuk beribadah kepada ALLAH SWT.

Mendekati bulan Ramadhan, dimana pintu pahala dibuka selebar-selebarnya, mari kita raih keberkahan ramadhan dengan saling menolong kepada sesama.




Noted : maaf jika masih ada kesalahan, ini hanya sekedar sharing saja, jika ada kekurangan atau mau menambahi silahkan. Mari kita saling berbagi ilmu.  Saran dan kritik sangat aku butuhkan agar bisa menjadi lebih baik.

2 comments:

  1. Menurutku juga begitu mbak, saat kita memberi yaudah diniatkan saja untuk menolong, setelah pemberian kita ada di tangan orang lain mau diapakan ya itu sudah menjadi tanggungjawab penerima dengan Allah. :)
    Tulisan mbak varida bagus sekali membuatku sejenak berkontlempasi. Salam kenal :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga kak Yust, alhamdulilah.. terimakasih kak

      Delete